Penjelasan Seputar Kontroversial Shalawat Nariyah Berdoa Kepada Siapa?

Penjelasan Seputar Kontroversial Shalawat Nariyah Berdoa Kepada Siapa?


Sekarang ini di dunia maya lagi ramai kontroversi sholawat nariyah yang oleh sebagian orang dianggap sebagai bentuk meminta kebahagiaan dan keselamatan yang tidak kepada Allah Ta’ala tetapi kepada Rasululullah. Dengan demikian hal tersebut menurut mereka, sama dengan meminta atau menyembah kepada selain Allah (kemusyrikan) yang dilarang dalam Al-Qur’an. Bagaimana penjelasannya?

Jawaban : Shighat shalawat itu ada dua.

Pertama : Shalawat murni tanpa tambahan doa tawassul seperti :

اللهم صل على محمد وعلى أل محمد

Kedua : Shalawat yang mengandung doa tawassul dengan wasilah Rasulullah SAW. Shalawat nariyah termasuk kategori yang kedua. Sebenarnya banyak sekali shalawat kategori yang kedua ini. Kitab Dalailul Khoirot itu berisi shalawat-shalawat yang termasuk kategori kedua. Namun karena shalawat nariyah itu sangat masyhur dan sering diamalkan oleh kaum muslimin ahlissunnah yang jumlahnya sangat banyak, maka menjadi shalawat yang dipersoalkan oleh mereka yang menganut ideologi wahabi atau aliran keras lain yang sejenis.

Menurut faham ahlissunnah waljamaah bahwa tawassul itu diperbolehkan baik yang ada di dalam shalawat maupun yang ada di dalam doa. Dan tawassul itu bukan meminta kepada selain Allah, tetapi tetap meminta kepada Allah.

Dalam buku berjudul “Membedah Intisari Ahlussunah Wal Jamaah” oleh KH. M. Danial Royyan cetakan Menara Kudus, Jogjakarta tahun 2011 halaman 160, dijelaskan :

Tawasul merupakan salah satu jalan berdoa, salah satu pintu menghadap kepada Allah SWT. Tujuan hakiki adalah Allah SWT, dan orang yang digunakan untuk bertawasul hanyalah penengah dan perantara untuk mendekat kepada Allah. Barang siapa menyakini selain yang demikian maka dia telah menyekutukan Allah.

Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki berkata : Dalam kitab Al-Fatawi Al-kubro, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah ditanya, apakah boleh bertawasul dengan Nabi SAW, atau tidak ? maka dia menjawab : Alhamdulillah, adapun tawassul dengan keimanan, taat, sholawat dan salam kepada Nabi, dengan doa dan syafaat Nabi, dan selain itu semua, baik berupa perbuatan Nabi atau perbuatan orang yang diperintah oleh Allah terkait dengan hak Nabi, maka tawassul yang demikian itu adalah perkara yang disyari’atkan (diperintahkan) dengan kesepakatan antara semua muslimin (Al-Fatawi juz 1 halaman 140).

Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki berkata : Muara perbedaan pendapat dalam masalah tawasul adalah tawasul yang tidak dengan menggunakan amal sholeh, tetapi tawassul dengan dzat atau orang, seperi ucapan tawassul dengan Shighat di bawah ini :

"Ya Allah sesungguhnya aku berawassul kepada-Mu dengan (perantara) Nabi-Mu Muhammad SAW",

atau

"Aku bertawassul kepada-Mu dengan (perantara) Abi Bakar As-Shiddiq, atau dengan (perantara) Umar bin Khatab, atau dengan (perantara) Utsman, atau dengan (perantara) Ali RA."

Tawassul dengan cara ini tidak di perbolehkan menurut sebagian ulama (ibn Taimiyah dan pengikutnya).

Kita melihat, bahwa perbedaan itu sebenarnya bersifat formalistik tidak bersifat substantif. Karena tawassul dengan menggunakan dzat atau orang itu pada hakikatnya sama dengan tawassul yang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan amal sendiri, karena pelakunya memiliki kecintaan (mahabbah) kepada orang yang digunakan untuk bertawassul. Sedangkan kecintaan kepada Nabi dan orang-orang sholeh yang digunakan untuk bertawassul adalah amal sholeh. Jika yang ini (tawassul dengan menggunakan amal sholeh) diperbolehkan, maka yang itu pun (tawassul dengan menggunakan dzat atau orang) harus diperbolehkan karena tidak adanya perbedaan di antara keduanya.

Sayyid Abdurrahman Ba’alawi berkata : tawassul menggunakan para wali, baik ketika mereka masih hidup atau sudah mati, hukumnya boleh secara syar’i, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan tentang Nabi Adam AS ketika melakukan maksiat, yang meminta ampunan kepada Allah dengan bertawassul dengan perantara Nabi Muhammad SAW.

لما اقترف آدم الخطيئة، قال: يا ربِّ، أسألك بحق محمَّد لَمَا غفرتَ لي، فقال الله: يا آدم، وكيف عرفت محمدًا ولم أخلقْه؟ قال: يا رب، لأنَّك لما خلقتني بيدك، ونفخت فيَّ من روحك، رفعت رأسي، فرأيت على قوائم العرش مكتوبًا: لا إله إلا الله، محمد رسول الله، فعلمت أنك لم تضِفْ إلى اسمك إلا أحبَّ الخلق إليك، فقال الله: صدقتَ يا آدم، إنه لأحب الخلق إلي، ادعني بحقِّه، فقد غفرت لك، ولولا محمَّد ما خلقتك

"Ketika Adam melakukan dosa, dia berkata : Wahai Tuhanku, aku meminta kepada-Mu dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuniku!. Allah bertanya : Bagaimana kamu mengenal Muhammad, padahal Aku belum menciptakannya?. Adam menjawab : Karena ketika Engkau menciptakanku dengan kekuasaan-Mu, dan Engkau tiupkan ruh-Mu ke dalam jasadku, maka aku mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di tiang-tiang arasy ada tulisan 'Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka aku mengetahui bahwa Engkau tidak akan menggabungkan kepada nama-Mu kecuali nama makhluk yang paling Engkau cintai. Allah berfirman : Engkau benar wahai Adam, sesungguhnya Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai. Berdoalah kepada-Ku dengan wasilah dia. Aku telah mengampunimu. Kalau tidak ada Muhammad maka Aku tidak menciptakanmu".

Demikian juga hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad RA dari Utsman bin Hunaif, bahwa seorang lelaki buta datang kepada Nabi SAW lalu berkata : Berdoalah kepada Allah agar memberiku kesehatan. Nabi SAW berkata : Jika engkau mau aku berdoa untukmu dan jika engkau mau saya menunda doa untukmu, maka itu lebih baik bagimu. Lelaki buta berkata ; Berdoalah kepada-Nya!. Lalu Nabi SAW memerintahnya untuk berwudlu, maka berwudlu dengan baik dan melakukan sholat dua rekaat dan membaca doa ini :

اللهم إني أسألك ، وأتوجه إليك بنبيك محمد نبي الرحمة ، يا محمد إني توجهتُ بك إلى ربي في حاجتي هذه ، فتقضى لي ، اللهم فشفّعه فيَّ وشفّعني فيه

“Ya Allah, sungguh aku meminta kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan wasilah Nabi-Mu Muhammad, Nabi kasih kasang. Wahai Muhammad, sungguh aku menghadap dengan wasilahmu kepada Tuhanku untuk hajatku ini, supaya dilaksanakan untukku. Ya Allah jadikanlah Muhammad pemberi syafaat padaku, dan berilah aku syafaat karena Muhammad”. Utsman bin Hunaif berkata : “Setelah melakukan itu semua, lelaki itu sembuh dari kebutaannya”.
Semoga bermanfaat. Amiin.

Referensi :
  1. Mafahim Yajibu An Tushahhah | Sayyid Muhammad bin Alwi Al- Maliki | Dar As- Shofwah, Malang, 2012.
  2. Bughyatul Mustarsyidin | Sayyid Abdurrahman Ba'Alawi | Dar Al-Fikr
  3. Membedah Intisari Ahlissunnah Waljamaah | M. Danial Royyan | Menara Kudus, Jogjakarta, 2011.

Bagikan ke:

You Might Also Like: