Hukum Pemanfaatan Masjid Disewakan Untuk Kegiatan Pernikahan dan Lainnya

Hukum Pemanfaatan Masjid Disewakan Untuk Kegiatan Pernikahan dan Lainnya


Hukum Pemanfaatan Masjid Disewakan Untuk Kegiatan Pernikahan dan Lainnya. Akhir-akhir ini disebagian tempat ada kecenderungan memfungsikan masjid untuk berbagai macam kegiatan, baik kegiatan keagamaan, kemasyarakatan, dan bahkan kegiatan perorangan / pribadi seperti acara pernikahan misalnya. Sehingga untuk melengkapi kebutuhan kegiatan tersebut, maka disediakan berbagai macam sarana seperti paggung, dekorasi, kuade, sound system, alat shoting dan lain sebagainya.

Semua peralatan tersebut diletakkan dilantai masjid yang tidak digunakan untuk shalat, baik dilantai atas maupun lantai bawah.

Pertanyaan 1:
Kegiatan apa saja yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan untuk dilaksanakan didalam masjid?

Jawaban :
Semua kegiatan yang boleh dilaksanakan diluar masjid juga boleh dilaksanakan didalam masjid dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Tidak ada larangan nash Al-Qur’an atau Hadits seperti kencing, buang air besar, mengotori, terutama dengan najis.
  • Tidak mengganggu orang yang melaksanakan kegiatan ibadah atau lainnya yang tidak dilarang didalam masjid seperti mengeraskan suara.
  • Tidak mengganggu kehormatan masjid.
  • Tidak menjadikan masjid sebagai tempat perniagaan tetap.

Referensi:
Ihya ‘Ulumuddin, juz II hal 331
Kitab al-Fiqh ala Madzahib al-Arba'ah, juz I hal 287-291
Ghayah al-Talkhish, hal 95-96

Pertanyaan 2:
Bolehkan meletakkan sarana pelengkap sebagaimana tersebut diatas didalam masjid, atau diruangan yang memang dari awal dipersiapkan hal itu seperi kamar mandi dan WC dilantai bawah atau disebelah peimaman, ruang perlengkapan, ruang pertemuan dan lain-lain?

Jawaban :
Pada prinsipnya, meletakkan sarana apa saja terutama kamar mandi dan WC didalam masjid adalah tidak boleh, kecuali sarana yang ada kaitannya dengan kegiatan ibadah dan kegiatan belajar mengajar, dan tidak mengganggu orang yang shalat.

Meletakkan sarana tersebut diruangan didalam masjid yang memang dari awal dipersiapkan untuk hal tersebut adalah boleh, karena hal tersebut sudah dikecualikan dari masjid (bukan masjid).

Referensi:
Bughyah al-Mustarsyidin hal 95
Ghayah al-talkhish hal 95
Hasyiyah al-Syarqawi, juz II hal 177
Ghayah al-talkhish hal 97
al-Syarwani, juz III hal 465

Pertanyaan 3:
Apakah bangunan masjid itu semuanya masjid atau hanya sebatas ruangan yag di Bina’ masjid saja sebagaimana kebiasaan yang terjadi atau justru semua tanah yang diwakafkan untuk masjid dan kemaslahatannya?

Jawaban:
Masalah tersebut dirinci sebagai berikut:

  • Satu bangunan masjid tidak semuanya menjadi masjid, tetapi sebatas bangunan atau ruangan yang di bina’ masjid saja yang menjadi masjid.
  • Tanah yang diwaqafkan untuk masjid tidak otomatis menjadi masjid selama belum di bina’ masjid, sehingga bisa digunakan untuk kemaslahatan masjid jika hal tersebut sudah menjadi kebiasaan di masyarakat.

Referensi:
Bughyah al-Mustarsyidin hal 63-64
Nihayah al-Zayn, hal 36
I’anah al-Thalibin, juz II hal 259-260

Pertanyaan 4:
Benarkah pendapat yang mengatakan bahwa salah satu lantai yang tidak dimanfaatkan untuk shalat tidak termasuk masjid dan boleh untuk dimanfaatkan kegiatan apa saja?

Jawaban:
Benar, apabila tempat / ruangan tersebut tidak berstatus masjid
Tidak benar, apabila tempat / ruangan tersebut berstatus masjid, sebagaimana pada poin 3.

Referensi:
Sama seperti poin 3
Fatawa Ibnu Hajar, juz III hal 273

Pertanyaan 5:
Bolehkah masjid disewakan untuk kegiatan akad nikah, foto-foto bersama dilengkapi dengan kuade, tempat pertemuan dan lain-lain?

Jawaban:
Tidak boleh, karena kaum muslimin memiliki haqqul intifa' terhadap masjid, bukan haqqul manfa'ah. Adapun hal pemanfaatan masjid, kaum muslimin boleh memanfaatkannya dalam hal yang diperbolehkan, sebagaimana pada poin 1.

Referensi:
al-Syawani, juz VI hal 273
al-Fatawa al-Kubra, juz III hal 288
'Umdah al-Mufti wa al-Mustafti, hal 65

Sumber: Hasil Keputusan Bahtsul Masail PCNU Pamekasan

Bagikan ke:

You Might Also Like: