Bagaimana Hukum Daur Ulang Air Limbah dan Air Najis Dalam Perspektif Fiqih

Bagaimana Hukum Daur Ulang Air Limbah dan Air Najis Dalam Perspektif Fiqih


Bagaimana Hukum Daur Ulang Air Limbah dan Air Najis Dalam Perspektif Fiqih. Air merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Sedangkan pasokan air bersih yang layak konsumsi seringkali kurang mencukupi kebutuhan, terutama saat musim kemarau. Untuk dapat memenuhi kebutuhan air bersih secara terus-menerus, dilakukan daur ulang air limbah dan air mutanajjis menjadi air bersih, meskipun ada sumber air bersih yang dapat digunakan.

Dalam kondisi seperti ini, muncul persoalan baru dalam perspektif fiqih. Dalam pandangan fiqih, jika perubahan air thahir muthahhir (suci dan mensucikan) menjadi jelek menyangkut warna, bau, dan rasa atas upaya manusia yang berarti bukan berubah dengan sendirinya, maka air tersebut dihukumi thahir dan bukan muthahhir lagi.

Sedangkan persoalan diatas dalam kondisi sebaliknya, yakni atas proses atau rekayasa manusia, air limbah dan air mutajjis berubah menjadi air bersih tanpa tersisa sedikitpun ciri-ciri sebelumnya yang menyangkut warna, bau dan rasanya.

Pertanyaan
Apakah air limbah dan air mutanajjis yang telah berubah menjadi air bersih atas proses atau rekayasa manusia dapat dihukumi air thahir muthahhir?

Jawaban
Air limbah dan air mutanajjis yang telah berubah menjadi air bersih atas proses atau rekayasa manusia dalam jumlah minimal dua qullah, dapat dihukumi air thahir muthahhir, sedangkan jika kurang dari dua qullah, maka air mutanajjis tersebut tetap dihukumi mutanajjis.

Hasil keputusan munas alim ulama, 27-28 juli 2006 di asrama haji sukolilo surabaya, hal 4-9
  • Al-Muhadzdzab fi fiqh al-imam al-syafi'ie, juz I hal 6-7
  • Al-Majmu' syarh al-Muhadzdzab, juz I hal 190-192
  • Raudlah al-Thalibin, juz I hal 20-21
  • al-Qalyubi, juz I hal 24

Bagikan ke:

You Might Also Like: